Get Adobe Flash player
 

MASALAH IJTIHADIYAH DALAM

HUKUM WARIS ISLAM

(Sebuah Kajian Singkat)

                                                                                      oleh:  Drs.Rohmat,MH

Berbicara masalah boleh tidaknya berijtihad dalam memecahkan sesuatu masalah dalam hukum Islam, senantiasa dipertanyakan lebih dahulu : apakah masalah tersebut masuk dalam bidang ubudiyah/aqidah atau masuk bidang muamalah. Para ulama sepakat bahwa hanya bidang muamalah yang boleh disentuh oleh ijtihad. Demikian pula halnya berbicara, boleh tidaknya berijtihad dalam menyelesaikan kasus-kasus dalam bidang hukum waris islam. Maka untuk menetepkan boleh tidaknya bidang hukum wris islam masuk bidang mana. Sebelum kita pastikan, untuk sementara kita anggap bidang hukum waris adalah termasuk bidang muamalah.

Jika kita  berkesempatan membuka-buka literatur ilmu Faraidl atau hukum Islam, disana akan kita jumpai tidak sedikit masalah ijtihadiyah. Tentu saja yang menjadi obyek ijtihad disana kebanyakan masalah-masalah yang belum ada nashnya dan qaht’i yang sharih. Namun bukan berarti ijtihad para ulama’ terdahulu itu tidak ada yang berani menyentuh hal-hal yang telah ada nashnya yang sharih dan qath’I, maka perlu dibuktikan kembali apakah para ulama’ ahli ilmu Fraidl benar-benar merasa tabu untuk dengan ijthad dengan bagian-bagian yanga telah ada dalil sharih maupun qadt’i. Nampaknya ijtihadiyah dalam hukum waris Islam sangat menarik untuk dikaji.

Setelah kita mencoba untuk membuka-buka kembali literatur, dapat kita temukan temuan beberapa masalah ijtihadiyah dalam Faraidl, yakni antara lain :

 

1.                    Masalah’ Aul : Masalah’ Aul adalah merupakan masalah yang dirumuskan dari hasil ijtihad, oleh sebab itu dapat kita katakan sebagai masalah ijtihajdiyah. Kesimpulan rumusan masalah ’Aul adalah, bahwa berhubung dalam pelaksanaan pembagian harta warisan, jika ahli waris harus memperoleh bahagian sebagaimana ditetapkan malam nash, yakni apa yang menjadi saham bagi mereka apa adanya, maka harta tidak akan cukup. Oleh karena itu, bahagian mereka harus dikecilkan/dikurangi secara adil berimbang dengan mempergunakan rumus tertentu yang telah disusun oleh para ulama’ ahli Faraidl. Misalnya, seorang isteri meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris yang terdiri atas : suami, ibu kandung, 2 anak perempuan. Maka berdasarkan nash sharih dan qath’i, bagian masing-masing ahli waris sebagai berikut : suami ½, ibu kandung 1/6,dan 2 anak perempuan = 2/3, jumlah semua bagian = 3/6+1/6+4/6 = 8/6. dalam menghadapi kasus pembagian waris semacam ini, semua ulama sepakat untuk mempergunakan sistem/masalah ’Aul, sehingga yang semula penyebutnya = 6 dibesarkan menjadi = 8 yang berarti memperkecil masing-masing nilai pembilang. Yang semula oleh nash  ditentukasn =1/2 tidak lagi1/2 tetapi menjadi 3/8, dan demikian seterusnya.

Disini jelas bahwa ijtihad telah mengubah nash dengan tujuan mencapai keadilan. Dan keseimbangan antara ahli waris. Meskipun telah mengubah secara harfiyah ketetapan nash namun ulama sepakat menerima pemecahan masalah ’ Aul ini. Jadi masalah ’Aul adalah masalah ijthadiyah dalam hukum waris Islam.

 

2.                    Masalah rad. Masalah rad boleh dilbilang sebagai kebalikan dari masalah ‘aul. Yakni apabila pembagian masalah waris dilaksanakan apa adanya saham yang telah ditentukan, maka harta masih belum habis dibagi. Walaupun dalam pembagian sisa lebih tersebut terdapat khilafiyah, apakah sisa tersebut dibagikan kembali kepada ahli waris atau di aserahkan baitul maal, apakah suami/istri berhak menerima atau tidak, namun penyelesaiannya merupakan hasil ijtihad juga yang berarti termasuk masalah ijtihadiyah, bahkan didalamnya terdapat khilafaiyah. Lebih jelasnya berikut ini sebagai contoh. Seorang suami wafat dengan meninggalkan ahli waris : seorang anak perempuan, seorang isteri, dan ibu kandung, maka bahagian masing-masing adalah :1/2, 1/8, dan 1/6. jumlah nya = 5/24. Menurut ulama’ ahli ilmu faraidl, sisa tersebut dibagikan secara adil dan berimbang, namun akibatnya harus merubah ketentuan yang telah digariskan oleh nash, yang semestinya seorang anak perempuan hanya mendapat1/2 berubah menjadi 12/19, berarti lebih besar dari1/2.demikian pula pembagian ahli waris yang lain.

3.                    masalah gharrawain. Masalah ini juga masalah Umaryatain. Bentuknya adalah seorang isteri wafat dengan meninggalkan suami, ayah dan ibunya saja, maka bagian masaing-masing menurut Al-Qur’an ialah : suami1/2, ibu 1/3 dan ayah = sisa. Jika dihitung maka ayah hanya mendapat 1/6, berarti bagian ayah lebih kecil dari bagian ibu bagian ibu dua kali bagian ayah. Hal ini diangap menyalahi kaidah umum “lizdzakari mitslu hadldlil untsayain“. Maka para ulama’ berijtihad dan mendapat kesimpulan bahwa yang dimaksud ibu mendapat 1/3 itu adalah 1/3 dari sisa warisan setelah 1/2 bagian diberkan suami. Jadi dalam hal ini ibu menerima 1/3 x 1/2 = 1/6 sedang ayah jadinya mendapat 1/3. Pendapat yang diuraikan tadi dikenal sebagai pendapat jumhur sahabat di antara mereka adalah : Umar bin Khotob, Zaib bin Tsabit, dan Abdulah bin Mas’ud. Disamping itu kita temukan pendapat yang lain, yakni ibu tetap mendapat 1/3 keseluruhan harta, bukan 1/3 sisa. Pendapat ini di riwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib dan diperangi oleh: Surah Al-Qadli, Adldh Dhhair dan Sya’ah Imamiyah. Ada pendapat lain lagi yang diriwayatkan berasal dari sahabat Ibnu Mas’ud dan kemudian diikuti ole Muhamad ibn Sirin dan Abu Bakar Al Asham.

 

4.                    Masalah Musytarakah. Masalah musytarakah juga termasuk masalah ijtihadiyah. Para ulama berbeda pendapat dalam penyelesaian ini semenjak dari sahabat, tabi’in dan ulama-ulama sesudahnya. Salah satu bentuk masalah ini adalah : seorang isteri meninggal dengan ahli waris : suami, ibu, saudara laki-laki seibu, saudara laki-laki sekandung dan saudara perempuan sekandung. Maka pembagian warisnya sebagai berikut : suami = ½, ibu, = 1/3. jumlahnya = 6/6,yang berarti ashabahnya tidak ada bagian, padahal pertalian darahnya dengan pewaris lebih dakat. Menurut hasil ijtihad para ulama hal demikian tidak boleh terjadi bahwa saudara seibu mendapat bagian, saudara sekandung malahan tidak mendapat bagian. Maka hasil ijtihad selanjutnya menetapkan bahwa pembagian untuk semua saudara seibu maupun sekandung bersama-sama memperoleh bagian waris sebab menurut logika bahwa ibu merka adalah satu.

 

5.                    Masalah antara ayah dari almarhum dan anak perempuan dari almarhum. Menurut Al-Qura’an, anak perempuan seorang mendapat 1/2 juga.  Padahal menurut nash qath’i bagian ayah hanya 1/6, sama keadaannya dengan anak perempuan juga dipertahankan hanya 1/2 ? mangenai sisanya harus dibagi dengan sistem rad. Jika hal ini yang ditempuh maka anak perempuan meperoleh 3/4 dan ayah memperoleh 1/4. kami rasa sistem in yang lebuh sesuai dengan rasa keadilan yang berkembang di indonesia dibanding dengan sistem umum yang kedua-dua sistem tersebut hasil ijtihad juga.

 

Terlihat dari uraian tadi bahwa hukum waris Islam banyak sekali disentuh oleh kegiatan ijthad. Tujuan ijtihad tidak lain adalah usaha menyelesaikan nash kepada kenyataan dalam praktek agar nash tersebut dapat diimplementasikan dalam kenyataan. Maka tidaklah terlalu salah jika hukum waris islam yang telah tertulis dalam kitab-kitab Faraidl itu masih dapat menerima perubahan dan perkembangan sesuai dengan perkembangan zaman secara subtantif walaupun sistem tetap harus dipertahankan. Maka akhirnya masalah-masalah baru dalam hukum waris semisal masalah washiyah wjibah, masalah waris pengganti, masalah menyamakan cucu keturunan anak laki-laki, dan cucu keturunan anak perempuan dapat menjadi hajib terhadap saudaara adalah merupakan suatu keherusan bagi hukum yang harus berlaku secara kekal abadi dan berlaku sepanjang zaman dan segala tempat di dunia

 

Tabayun Online

Waktu sholat untuk Brangsong - Kendal , Jalan Soekarno Hatta. Widget Jadwal Sholat oleh Alhabib.

Pengunjung

406143
Hari Ini
Kemarin
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
858
355
8709
13263
406143

IP Anda : 54.92.141.211
Server Time: 2017-10-17 22:00:50

Hak Cipta © 2014 Pengadilan Agama Kendal

Jl. Soekarno Hatta Km. 4, Brangsong - Kendal Telp. 0294-381490 Fax. 0294-384044

Jawa Tengah, Indonesia - 51371