Get Adobe Flash player

KHUTBAH JUM'AT

MAKNA ISRA’ MI’RAJ

 

 Jamaah jum’ah yang mulia

ImagePuji syukur marilah senantiasa kita haturkan kehadlirat Allah swt, atas segala karunia yang telah diberkanNya kepada kita sekalian, marilah kita tingkatkan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah swt dan kita buang jauh-jauh ucapan dan tindakan yang menyalahi aturan Allah dan rasulNya. Dengan cara demikian insya Allah kita akan mendapatkan kemenangan didunia dan di akherat.

ومن يطع الله و رسوله يدخله جنت تجرى من تحتها الانهار خالد ين فيها  و ذ لك الفوز العظيم

Barang siapa yang mentaati Allah dan RasulNya, pasti Allah akan memasukkan dalam urge yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, dan itulah kemenangan yang amat besar.

Hadlirin jamaah jumah yang mulia.

Bulan ini adalah bulan Rajab, dan menurut pendapat yang masyhur dikalangan para Ulama, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi besar Muhammad saw adalah terjadi pada bulan Rajab, tepatnya tanggal 27 Rajab. Peristiwa Isra’ diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Isra’ (bany Israil)  , sedangkan peristiwa mi’roj diabadikan dalam al-Qur’an dalam surat an-Najm . Dalam surat al-Israo’ ayat 1 , Allah swt berfirman :

سبحان الذى اسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام الى المسجد الاقصا الذى باركنا حوله لنريه من اياتنا و هو السميع البصير

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (N.Muhammad saw) pada malam hari, dari masjidil harom (di Makkah) sampai ke masjidil aqsho (di Palestina),yang telah Kami berkahi disekelilingnya, agar Kami memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami, Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi maha melihat.

Hadlirin jamaah jum’ah yang mulia.

Dalam Kitab Tafsir al-Jami’ul Bayan oleh Ath-Thobary, dinukilkan bahwa makna   “subhana”                      adalah lit tanziih yakni inzaahullah anis suu’ ai al-baroah lillah ‘anin nuqshon, artinya pernyataan tentang kesempurnaan dan kesucian Allah, bahwa Allah jauh dari sifat-sifat yang kurang dan yang buruk.

Kenapa ayat tersebut dimulai dengan kalimah “subhana” ?. Imam Qurtuby dalam kitab tafsirnya al-Jami’ li ahkamil qur’an menyatakan bahwa kalimah subhana untuk memberi jawaban tentang perdebatan para pakar yang memperselisihkan, apakah isra’ mi’raj itu hanya bersifat ruhiyat saja (fir ru’ya = dalam mimpi), ataukah bersifat ruh dan jasad (fil yaqdloh) artinya dialami oleh Rasulullah secara nyata dalam keadaan sadar baik secara fisik dan rohani.

Secara nalar, memang peristiwa isra’ mi’raj oleh sebagian manusia sulit menerimanya, karena kejadian itu melewati hukum-hukum fisika dan realitas kemanusiaan. Bagaimana manusia dengan fisiknya bisa menembus alam ruhiyat (non fisik). Makanya tidak mengherankan ketika Rasulullah saw menceriterakan peristiwa ini kepada kaumnya, kaum (kafir quraisy) itu menertawakannya dan mendustakannya, bahkan ada sebagian yang semula telah beriman kepada Rasulullah lalu menjadi kafir lagi (murtad) karena berpendapat bahwa Rasulullah saw telah berkata dusta. Berbeda dengan sikap Abu Bakar ra, beliau langsung percaya dengan apa yang disampaikan Rasulullah saw, maka Abu Bakar diberi gelar Ash-Shiddiq.

Allah swt dalam menguatkan kerasulan para nabi Nya senantiasa memberikan mu’jizat, maka isra’ mi’raj adalah salah satu mu’jizat Rasulullah Muhammad saw sebagai bukti kenabiannya. Karena diyakini sebagai mukjizat, maka janganlah kita memandang sesuatu yang tidak mungkin, jika Allah swt menghendaki, maka sesuatu yang tak mungkin, bisa menjadi mungkin, karena Allah maha sempurna. Subhanallahal adzim. Maha suci Allah yang maha agung.

Jamaah jumah yang mulia.

Pada kalimah “linuriyahu min aayaatina”, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kekuasaan Kami, maksudnya adalah bahwa Allah akan memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Rasulullah saw, sebagaimana dahulu pernah diperlihatkan kepada N.Ibrahim as.

Allah swt pernah memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada N.Ibrahim as melalui pandangan spiritual Ibrahim ( bashiroh/mata batin ) agar beliau melihat keindahan dan keajaiban alam semesta dari tempat beliau berpijak dibumi. Allah swt memperlihatkan kepada N.Ibrahim apa yang diluar okum-hukum alam fisik melalui mata kalbunya. Allah berfirman dalam surat al-an’am ayat 75

و كذالك نرى ابراهيم ملكوت السموات و الارض و ليكون من الموقنين

Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami yang terdapat di langit dan dibumi dan Kami memperlihatkannya agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yaqiin.

Allah swt dalam memperlihatkan kekuasaan diluar alam fisik, dimulai dengan penyaksian N.Ibrahim terhadap bintang-bintang dimalam hari, semula beliau menganggap bahwa bintang-bintang itu adalah Tuhan, namun tatkala bitang2 itu telah hilang , ia berkata saya tidak suka kepada sesuatu yang bisa hilang, lalu datang bulan dan dilihatnya lebih  terang cahayanya, Ibrahim berkata ini adalah Tuhanku, namun tatkala bulan telah lenyap, beliau berkata sekiranya Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku niscaya aku termasuk orang yng sesat, lalu dilihatlah mata hari, beliau berkata ini adalah Tuhanku, ia lebih besar dan terang sinarnya, namun tatkala matahari hilang dari pandangannya, beliau berkata “innii barii-un mimma tusyrikuun” sesungguhnya saya berlepas diri dari apa yang kalian sekutukan. ( al-An’am ayat 76-77 )

Sehubungan dengan kisah al-Qur’an yang menunjuk kepada perjalanan spiritual N.Ibrahim tersebut, Dr.Quraisy Shihab menyatakan bahwa, ayat-ayat Allah yang terdapat di alam raya, telah terhampar jauh sebelum turunnya ayat-ayat al-Qur’an. Apa yang terdapat di alam raya ini sedemikian indah dan mempesonakan, sehingga banyak orang yang terpukau bahkan berusaha menguasai dan meraihnya sebanyak mungkin. Sikap ini memunculkan sikap materialisme sehingga ayat-ayat Allah itu tidak dijadikan sebagai tanda kebesaran Allah tetapi justru menjadi tujuan hidupnya sehingga mereka terpedaya dengan duniawiyah dan bergelimang dosa dengan kekufuran dan syirik.

Untuk itu dalam kisah N.Ibrahim tersebut, setelah beliau menemukan tingkat spiritual yang sejati, beliau menyatakan : Innii wajjahtu wajhiya lilladzii fathoros samaawaati wal ardla haniifan, wa maa ana minal musyrikiin “ sesungguhnya aku telah menyerahkan diriku kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan hanif yaitu selurus-lurusnya atau sebenar-benarnya, dan tidaklah aku termasuk orang yang syirik.

Firman Allah ini, member petunjuk bahwa janganlah manusia itu mengejar hal-hal dari kehidupan didunia ini, tetapi kejarlah atau carilah dimensi spiritual yang melampaui hukum-hukum alam fisik, dan merupakan kehidupan yang sejati, demikian pendapat Maulana Syekh Hisyam Kabbany.

Hadlirin siding jum’at yang mulia

Apabila Nabi Ibrahim dinamai dengan “Kholilullah” (kekasih Allah), beliau  telah ditunjukkan padanya kerajaan langit dan bumi, namun Allah tidak berbicara langsung kepada N.Ibrahim as. , dan Nabi Musa as, dinamai  “Kalimullah” ( yang mampu berbicara langsung dengan Allah ) tatkala di bukit Sinai, tetapi N.Musa tidak ditunjukkan kerajan langit dan bumi, Akan tetapi Rasulullah saw sebagai “sayyidul mursalin” dan “khotimul ambiya’ wal mursalin”, Nabi Muhammad saw disamping diperlihatkan kerajaan langit dan bumi, juga Allah berbicara langsung dengan beliau tatkala beliau mi’raj ke sidratul muntaha.

Apabila pandangan N.Ibrahim as dan pendengaran N.Musa as dapat melampaui batas-batas hukum fisik, namun fisik jasad kedua Nabi tersebut tidaklah bergerak melampaui batas-batas hukum dunia fisik, tetapi Rasulullah Muhammad saw baik fisik maupun rohani beliau bergerak dalam dimensi-dimensi spiritual, beliau dalam kebebasan paripurna dari hokum-hukum fisika. Beliau diperlihatkan langsung tidak hanya yang terkait dengan kerajaan langit dan bumi, tetapi juga singgasana Allah di Sidratul muntaha, adanya surge dan neraka serta nasib yang dialami umat manusia di alam akherat. Ini semua adalah merupakan kehormatan dan sekaligus kesempurnaan risalah Nabiyullah Muhammad saw.

Akhirnya, semoga dengan merenungkan kembali makna isra’ mi’raj Nabi Muhammad saw akan semakin menambah mi’roj jiwa kita dalam ma’rifatullah, naik dan meningkat amal sholeh kita dan pada gilirannya semakin merasa dekat kepada Sang pencipta kita yaitu Allah swt. Amin ya rabbal alamin.

 

 

HAJI  SEBGAI JOB TRAINING MENUJU GERBANG KEMATIAN

 oleh Rahmat , MH

 

 

ImageCendekiawan muslim asal Iran, Dr. Ali Sariati, menyebutkan bahwa prosesi ritual dalam ibadah haji, adalah gambaran paling nyata dan lengkap menuju kematian yang diberikan oleh Allah SWT kepada sebagian umat-Nya, oleh sebab itu seorang yang menunaikan ibadah haji berarti memperoleh karuniai langsung dari Allah SWT mengikuti latihan masal kematian sebelum mengalami kematian yang sesungguhnya.

                Untuk itulah calon jamaah haji, amat penting melakukan serangkaian persiapan fisik dan non fisik. Begitu hari keberangkatan tiba, para calon jamaah haji disunatkan segera berwasiat kepada keluarga yang ditinggalkan, menyebutkan tanggungjawab dan menjelaskan tanggungan yang akan ditinggalkan termasuk utang piutang, ini karena calon haji akan berangkat menuju gerbang kematian.
       
                 Kalau berhasil kembali ke tanah air, diberi panjang umur dengan misi khusus melanjutkan penggalan terakhir pengabdian kepada Allah di dinia. Kepada mereka ini Allah SWT telah menyiapkan cendramata khusus mudik ke kampung halaman, berupa kewajiban menggambarkan hasil pertemuannya dengan sang Maha Pencipta kepada keluarga,handai taulan, tetangga dan rekan sejawat.
 

Berlandaskan kesadarannya, seorang pelaku haji telah berbaiat kepada Allah SWT, untuk menjadi duta Tanah Haram dengan tugas menebar aroma surga bagi lingkungannya, kalau misi ini dapat dia lakukan dengan baik maka dia berhak menyandang haji mabrur, sebaliknya jika misi ini tidak berhasil dia emban, maka sepantasnya menyandang haji mardud.

Tetapi jikalau tidak berhasil kembali ke tanah air, itu berarti dia telah berhasil menjadi tamu abadi Allah, dan ia berhak sejengkal tanah haram di lingkungan rumah Allah, untuk tinggal dikuburkan sambil menunggu sangkakala akhir jaman, dia telah menjadi syahid dan tertunaikan tanggungjawabnya karena sebelum berangkat haji telah berwasiat dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah.

Di mata Allah mereka tidak mati melainkan hidup hidup dalam dunia yang lain. Dunia yang dianggap kematian bagi yang tinggal di dunia, sebaliknya bagi yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia fana ini kematian merupakan kehidupan hakiki. Bagi yang telah meninggal di tanah haram ia dipilih secara khusus menuju ke kekuasaan Allah. 

               Oleh sebab itulah banyak jamaah haji yang menginginkan dijemput maut saat beribadah haji karena pesona kematian jalan sahid dan bayangan aroma surga, meski hal ini tidak dibenarkan.

Begitu kaki menginjak bandara maka perasaan aneh dan ajaib langsung terasa, terbayang berjuta-juta malaikat sudah menunggu menjemput jamaah menuju tanah haram,bacaan talbiyah langsung bergema di dalam hati menebus relung jiwa, mengalir ke seluruh tubuh


لبيك اللهم لبيك لبيك لاشريك لك لبيك ان الحمد والنعمة لك والملك لاشريك لك


Lantunan kata-kata magis ini terus bergema sampai jamaah terlelap di dalam badan pesawat, lelap dalam bisikan talbiyah, harapan akan segera bertemu, berdialog, bercengkrama dengan Allah SWT, aroma surga sepertinya tak pernah berhenti menembus di dalam diri sampai pesawat mendarat di bandara King Abul Aziz, jeddah.

                Dari bandara ini menuju rumah Allah kian dekat, para jamaah telah mengenakan dua lembar kain kafan putih, tak tertinggal sedikitpun benang melekat di tubuh, tak ada lagi perhiasan, wewangian, tak ada lagi dirinya sendiri, mereka telah menjadi mahluk yang berbeda dari sebelumnya yang bertamu ke rumah Allah dengan berletih-letih, bersusah payah tanpa mengenal rasa kantuk dan capek.

Kedatangan duyufullah ini bak dihempas gaya tarik pancaran kaÂ’bah, sebuah mahadaya magis yang menyedot jutaan hati manusia menyeruak dari kaÂ’bah. Seluruh umat secara bersama-sama bersatu padu serentak mengitari baitullah.

                 Di lingkungan baitullah ini jangan pernah ada niat selain mengagungkan asma Allah, jangan pernah menentang arus manusia yang sedang tawaf karena akan terlempar dari pusaran kekuatan Allah, ikutilah arus manusia yang berlapis-lapis. Lapisan-lapisan putaran manusia ini secara otomatis tergantikan posisinya oleh lapisan berikutnya.

                 Prosedur lapisan ruhaniyah ini akan mengantarkan setiap jamaah untuk dapat mencapai beragam sukses, ia akan dengan mudah mencapai Maqom Ibrahim, pada lapisan berikutnya akan memasuki hijir Ismail dan terakhir mencapai multazam, sebuah tempat mustajab.

Selain Masjidil Haram, maka Maqom Ibrahim Hijir Ismail dan Multazam merupakan  trilogy tempat yang paling didambakan muslim. Di tempat inilah segala dosa disampaikan, semua puja dikumandangkan, lautan air mata ditumpahkan, segunung dosa diakui, sadar akan kecilnya diri, allahu akbar walilahi alhamdu.

FILOSOFI IBADAH HAJI

Oleh: Yusuf Buchori

 

Hadirin jamaah jumah rahimakumullah

 

Syukur alhamdulilah, marilah senantiasa kita haturkan kehadirat Allah swt, atas segala karuniaNya yang telah kita terima, karena dengan mensyukuri nikmatNya berarti kita telah berusaha untuk melanggengkan nikmat itu ada pada diri kita, namun jika kita tidak mau mensyukurinya, berarti kita telah membuka jalan untuk hilangnya nikmat itu dari diri kita dan ditukarnya dengan bencana atau musibah;

 

من لم يشكر النعم فقد تعرض لزوالها ومن شكرها فقد قيدها بعقالها

 

“Barangsiapa tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah, berarti ia telah membuka jalan untuk dicabutnya nikmat itu, dan barang siapa yang mensyukurinya, maka ia telah mengikat nikamat itu dengan ikatan yang kuat”

 

Sholawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi besar Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya dan juga kepada kita seluruh ummatnya sampai hari kiamat. Amin.

 

Selaku khatib, saya mengajak kepada para jamaah sekalian dan juga kepada diri saya sendiri, untuk terus menerus menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taqwa kepadaNya, taat terhadap segala firmanNya dan mengikuti Sunnah-sunnah RasulNya dengan tulus ikhlas. Pengabdian, ketaatan dan ketundukan kepada Allah dan RasulNya menjadi jalan terbukanya pintu rahmat dan keridloan Allah swt  serta ketentraman jiwa.

 

كفى العاملين جزاء ماهو فاتحه على قلوبهم فى طاعته وما هو مورده عليهم من وجود مؤاسسته                

 

“Cukuplah sebagai balasan Allah bagi orang-orang yang beramal sholeh, apa yang dibukakan oleh Allah dihati mereka dalam mentaatiNya, dan apa yang diulurkan olehNya berupa kepuasan dan kedamaian dalam jiwanya”

 

Hadlirin Jamaah jumah yang mulia.

 

  Dalam al-Quran surat ali Imron ayat 97-98 Allah swt berfirman :

 

 

ان اول بيت وضع للناس للذى ببكة مباركا وهدى للعالمين    فيه ايات بينات مقام ابراهيم و من دخله

 

كان امنا  ولله على الناس حج البيت من استطاع اليه سبيلا  ومن كفر فان الله غني عن العالمين

 

“Sesungguhnya rumah yang pertama-tama dibangun untuk beribadah adalah baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Disitulah terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah yang nyata yaitu antara lain maqom Ibrahim (tempat munajat N.Ibrahim). Barang siapa yang memasuki kota Makkah dia akan mendapatkan keamanan dan diwajibkan bagi umat manusia untuk melakukan ibadah haji karena Allah semata yaitu bagi mereka yang ada kemampuan dalam perjalanan baik fisik maupun finansiil, dan barang siapa yang kufur, maka ketahuilah bahwa Allah itu maha kaya atas seluruh alam”

 

Dalam kitab Tafsir “al-Jami’ li ahkamil Qur’an” juz IV, hal.138, Imam Kurtubi menukil riwayat dari Ali bin Abi Tholib, bahwa Allah swt memerintahkan kepada para malaikat untuk membangun rumah ibadah dibumi sebelum Adam diciptakan dan setelah itu Allah memerintahkan para malaikat untuk thowaf mengelilingi rumah ibadah tersebut, dan dalam riwayat lain ketika N.Adam dan Ibu Hawa menyesali akan kesalahannya, lalu keduanya bertaubat dan mohon ampun kepada Allah, Allahpun menerima taubatnya dan memerintahkan agar keduanya berthowaf mengelilingi baitullah seraya mengucapkan :

 

ربنا انا ظلمنا انفسنا فان لم تغفرلنا و ترحمنا لنكونن من الخسرين

 

 

“Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah banyak berbuat dosa, maka jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak memberikan kasih sayang kepada kami, niscaya kami benar-benar termasuk orang yang merugi”

 

Rumah ibadah yang semula dibangun oleh para malaikat, lalu diperbaiki oleh N.Adam dan para nabi berikutnya dan disempurnakan oleh N. Ibrahim as, kita kenal dengan sebutan “Baitullah” atau “Ka’bah” yang sekarang ini berada ditengah-tengah masjidil harom. Ka’bah merupakan sentral grafitasi spiritual artinya menjadi pusat arah pengabdian manusia yang bertauhid atau meng Esakan Allah dari masa kemasa, dari N. Adam sampai manusia diakhir zaman nanti.

Bagi kita umat Islam dimanapun berada, setiap kali sholat wajib menghadap kearah ka’bah, dan juga umat Islam dimanapun berada diwajibkan untuk menziarahi baitullah tersebut yaitu melakukan ibadah haji bagi yang ada kemampuan yaitu sehat fisik dan rohani, aman dalam perjalanan dan ada biaya untuk perjalanan tersebut.

Dalam agama kita, tujuan atau maqosidusy syar’y dari ibadah itu antara lain untuk tazkiyatun nafsi, mensucikan jiwa, membersihkan diri dari salah dan dosa. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan dalam al-qur’an, surat Hud ayat 114

 

ان الحسنات يذهبن السيات  ذلك ذكرى للذاكرين

 

“ Sesungguhnya kebaikan itu akan menghapus keburukan, itulah nasehat bagi orang yang mau mengambil nasehat dari Allah”

 

Oleh karena salah atau dosa manusia itu bertingkat-tingkat yaitu ada dosa kecil dan dosa besar, maka ibadahpun juga bertingkat tingkat. Ibadah wudlu misalnya, antara lain untuk menghapus dosa-dosa kecil, jika dengan wudlu belum terhapus dosanya, maka dilakukanlah sholat, dan jika sholat lima waktu juga belum bisa menghapus dosanya, maka diperintahkan puasa Ramadlon sebulan lamanya, dan jika dengan ibadah puasa belum dapat menghapus dosa-dosanya, maka wajib zakat, dan jika dengan zakat juga belum terhapus dosanya, maka diperintahkan melakukan ibadah haji,

 

Hadirin jamaah jumah yang mulia ;

 

Ibadah haji sesungguhnya penuh dengan simbul-simbul atau lambang-lambang spiritual yang penuh makna, sebagaimana firman Nya “li yasyhaduu manaafi’a lahum”. Lambang yang penuh makna itu, antara lain dapat kita lihat dalam rukun ibadah haji itu sendiri :

 

  1. Ihram;

Ihram dari kata “ahroma” yuhrimu, ihroman, artinya penghormatan, memakai baju ihrom yakni memakai kain putih tanpa berjahit, melambangkan bahwa seseorang tersebut telah mengenakan baju kehormatan, baju kesucian dan baju ketaqwaan atau libasut taqwa. Kehormatan, kemuliaan dan kesucian seseorang, bukan ditentukan oleh pangkat dan jabatan atau status social mereka didunia, tetapi ditentukan oleh ketaqwaannya disisi Allah swt :

 

ان اكرمكم عند الله اتقاكم

 

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu” (al-Hujurot :13).

 

  1. Wukuf di Arofah;

Wukuf di Arofah melambangkan agar setiap orang mengenal akan dirinya sendiri, meyakini akan kedudukan dirinya dihadapan Allah swt Dzat pencipta alam semesta. Kata arofah berasal dari kata “’arofa” ya’rifu, ‘arofatan, artinya mengenal, mengerti dan memahami. Dengan demikian wukuf di Arofah dimaksudkan agar manusia lebih mengenal posisi dirinya dihadapan Allah swt, dimana manusia bagaikan sebiji pasir ditengah-tengah padang sahara, manusia adalah sangat kecil dihadapan Allah yang maha agung,

انك لن تخرق الارض ولن تبلغ الجبال طولا

 

“sesungguhnya kamu tidak akan mampu menjangkau luasnya bumi Allah dan tidak mampu menandingi tingginya gunung” (al-Isro’ : 37)

Dengan demikian sifat takabur, suka dipuji orang, merasa kuat dsb, tidak lagi menghiasi dirinya, tetapi tumbuh subur dalam dirinya rasa khusyu’ dan tawadlu’.

Kemudian wukuf itu artinya berhenti sejenak yaitu para jamaah haji wajib berhenti di padang arofah untuk beristighfar dan bermunajat kepada Allah swt, sedangkan kita yang muqim atau tidak melakukan ibadah haji juga disunnahkan untuk wukuf yaitu berhenti dari makan dan minum untuk melakukan ibadah puasa sunnah arofah tanggal 9 dzul hijjah. Dalam Kitab al-Jamiush Shoghir Imam Suyuthi menukil hadis Rasulullah saw sebagai berikut :

 

صوم يوم عرفة كفارة السنة الماضية والسنة المستقبلة

 

“Puasa hari arofah adalah penghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang” (Hadits shohih riwayat ath-Thobarony dari Abi Sa’id)

 

  1. Thowaf

Thowaf yaitu mengelilingi ka’bah 7 kali, memberikan pelajaran kepada kita akan kesadaran ketauhidan. Bahwa hanya Allah lah yang menjadi pusat orbit seluruh planet yang ada, termasuk manusia yang hidup di planet bima sakti ini. Bumi, bulan, matahari, serta bintang-bintang lainnya berputar pada orbitnya masing-masing, bertasbih, memaha sucikan dan memuji kebesaran Allah.

 

وان من شيئ الا يسبح بحمده  ولكن لا تفقهون تسبيحهم

 

“Dan tidak ada sesuatupun ciptaan Allah dijagad raya ini kecuali bertasbih dan memuji kebesaran Allah, namun kalian tidak mengetahui tata cara tasbih mereka”( al-Isra’ : 44)

 

Begitu juga umat manusia dalam kehidupannya selalu berputar dan bergerak dan pada akhirnya menuju kepada Allah, Sang penciptanya. Allah swt berfirman :

 

يا ايهالانسان انك كادح الى ربك كدحا فملا قيه

 

“Wahai umat manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja keras untuk menuju kepada Tuhanmu, dan kalian pasti akan bertemu denganNya” (al-Insyiqoq : 6)

 

  1. Sa’iy

 

Sa’iy adalah lari-lari kecil dari Shofa ke Marwa 7 kali, yaitu napak tilas usaha Siti Hajar untuk menemukan air (sumber kehidupan). Sa’iy berasal dari kata “sa’a” yas’iy, sa’yan artinya bekerja dan berusaha, shofa artinya bersih dan suci, sedangkan marwa artinya hasil atau kemenangan. Hal ini melambangkan bahwa jika seseorang dalam usaha atau bekerja dilandasi dengan niat yang suci dan bersih, maka ia akan mendapatkan hasil atau kesuksesan yang besar, Allah berfirman :

 

فاما من اعط واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى

 

 

“ Adapun orang yang suka memberi dan bertaqwa, serta membenarkan akan hasil yang baik dari Allah, maka Allah akan memberikan kemudahan untuk meraih kemenangan dan kemulyaan tersebut “ ( al-Lail : 5-7)

 

 

Hadirin jamaah jumah yang mulia

 

Demikian antara lain makna perjalanan ibadah haji, dan tentu masih banyak lagi makna atau pelajaran yang dapat diambil dari ibadah haji tersebut yang tidak mungkin disampaikan dalam khotbah jumat ini.

Sebagai umat Islam, sesuai dengan makna ummat yang berasal dari kata: amma-yaummu artinya menuju kearah depan, maksudnya sebagai umat Islam dalam perjalanan hidupnya harus selalu maju kedepan, menuju kepada kemuliaan dan kesuksesan.

Dalam hal ibadah misalnya, diharapkan kita juga meningkat kadar kwalitas ibadah kita, yang semula dalam sebutan “’abid”  meningkat menjadi “”arif billah”, semula dalam ibadah baru sebatas formalitas yaitu sekedar menunaikan kewajiban, namun dapat meningkat dari formalitas kepada substansial yaitu menghayati dan merenungkan makna atau isi dari gerakan-gerakan ibadah itu dan mewujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut ahli tasawuf (Shufi), kalau seseorang beribadah masih mengharapkan keuntungan yaitu supaya masuk surga dan terhindar dari neraka, itu menunjukkan orang tersebut belum ikhlas karena Allah. Arif billah adalah seseorang beribadah hanya mengharapkan ampunan dan ridlo Allah semata, sehingga seseorang yang merasa banyak dosa, ia akan lebih semangat beribadah dan yang merasa kalau-kalau ibadahnya tidak diterima Allah, maka ia akan meningkatkan kekhusyu’an dan tawadlu’nya kepada Allah, dengan harapan ia bukan saja termasuk golongan “al-Abror” tetapi juga golongan “al-Muqorrobiin”.

 

Mudah-mudahan kita umat Islam terus menerus mendapat hidayah dan pertolongan Allah swt dalam menuju masa depan yang lebih baik. Amin ya robbal alamin.

 

 

 

 

           

MENGGELORAKAN SEMANGAT HIJRAH

oleh Yusuf Buchari

 

 Jamaah jum’ah yang mulia

Puji syukur marilah senantiasa kita haturkan kehadlirat Allah swt, atas segala karunia yang telah diberkanNya kepada kita sekalian, marilah kita tingkatkan ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah swt dan kita buang jauh-jauh ucapan dan tindakan yang menyalahi aturan Allah dan rasulNya. Dengan cara demikian insya Allah kita akan mendapatkan kemenangan didunia dan di akherat.

و من يطع الله و رسوله يدخله الجنة تجرى من تحتها الانها ر  خالد ينا فيها  ذالك الفوز العظي

Barang siapa yang mentaati Allah dan RasulNya, pasti Allah akan memasukkan dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, dan itulah kemenangan yang amat besar.

Hadlirin jamaah jumah yang mulia.

Bulan ini adalah bulan Muharram, yang menurut kalender Islam adalah bulan yang pertama. Bulan Muharram adalah salah satu dari 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an S.At-Taubah ayat 36 :

ان عدة الشهور عند الله اثنا عشرة شهرا فى كتاب الله يوم خلق السماوات و الارض  منها اربعة حرم  ذالك الدين القييم

Sesungguhnya bilangan bulan yang ditetapkan Allah ada 12, yaitu sejak diciptakannya langit dan bumi. Diantara bulan yang 12 itu ada 4 bulan yang dimuliakan, Itulah ketetapan agama yang lurus.

Dalam Kitab Tafsir al-Jami’ li Ahkamil Qur’an juz 8 hal.133 dikatakan bahwa yang dimaksud 4 bulan yang dimuliakan adalah, Dzul-Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram, dan Rajab, sebagian lainnya mengatakan Romadlon.

Dalam bulan-bulan tersebut, kebiasaan bangsa arab ketika itu disepakati tidak boleh ada pertempuran atau penganiayaan antara kabilah yang satu kepada yang lain. Dan selanjutnya dalam Islam di nyatakan :

Dan janganlah kamu menganiaya dirimu sendiri dalam bulan-bulan tersebut. Maksudnya adalah: Laa tadzlimuu fiihinna anfusakum bir tikaabidz dzunuub, wa idza ‘adh-dhomahu min jihataini au jihaatin, shoorot harromathu muta’addidah. Fayudloo’ifu fiihil ‘iqooba bil ‘amalis sayyi’i kamaa yudhoo’ifuts tsawaaba bil ‘amalish sholih.

Janganlah kamu menganiaya dirimu dalam bulan-bulan haram itu dengan melakukan perbuatan-perbuatan maksiat yang mendatangkan dosa, karena jika Allah memuliakan suatu bulan-bulan tertentu, berarti pula Allah akan melipatkan hukumannya terhadap perbuatan kejahatan, sebagaimana Allah akan melipat gandakan pahala terhadap perbuatan yang baik. Demikian dijelaskan  oleh Imam Qurthuby dalam Kitab Tafsirnya “al-Jami’ li Ahkamil Qur’an”

Bulan Muharram bagi umat Islam dipahami sebagai bulan Hijarahnya Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah, yang sebelumnya bernama “Yastrib”. Meskipun dalam hal ini kejadian hijrah Rasulullah saw tersebut terjadi pada malam tanggal 27 Shofar dan sampai di Yastrib pada tanggal 12 Rabiul awwal, tahun ke 14 ‘ammul ba’tsi. Adapun pemahaman bulan Muharram sebagai bulan hijrah Nabi, karena bulan Muharram adalah bulan yang pertama dalam kalender Qomariyah yang oleh Umar bin Khottob, yang ketika itu beliau sebagai kholifah kedua, dijadikan kalender bagi umat Islam dengan diberi nama Tahun Hijrah.

Hadlirin jamaah jumah rahimakumullah.

Sehubungan dengan bulan Muharram ini, kita umat Islam diingatkan kembali tentang peristiwa hijrah Rasulullah saw. Yang perlu kita ingat, bukan sejarahnya atau kapan peristiwa hijrah itu terjadi, namun yang penting atau perlu kita ingat adalah makna atau hikmah dari hijrah Rasulullah saw.

Hijrahnya Rasulullah saw dari Makkah ke Madinah, bukan semata-mata kehendak Rasulullah sendiri, dan bukan pula karena rasa takut dari ancaman orang-orang kafir, namun hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah adalah wahyu atau perintah Allah swt untuk menyelamatkan agama Allah, karena kondisi di Makkah sudah tidak memungkinkan untuk tegaknya agama Allah yang suci. Allah telah menunjuk Yastrib yang kemudian dikenal dengan nama Madinah, sebagai tempat untuk mengembangkan dakwah Islam dan dari madinah itu nantinya akan tersebarlah agama Allah keseluruh pelosok dunia. Dalam al-Qur’an, surat an-Nisa’ ayat 100 Allah berfirman :

ومن يهاجر فى سبيل الله يجد فى الارض مراغما كثيرا و سعة  ومن يخرج من بيته مهاجرا الى الله و رسوله ثم يدركه الموت فقد وقع اجره على الله   وكان الله غفورا رحيما

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, pasti ia akan mendapati dibumi Allah ini kejayaan dan rizki yang banyak.Barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan niat untuk berhijrah kepada Allah dan rasulNya, kemudian kematian menimpa kepadanya sebelum sampai pada tempat yang dituju, maka sungguh telah tetap pahalanya disisi Allah, dan adalah Allah itu maha pengampun dan penyayang

Imam Rasyid Ridlo, dalam Kitab Tafsirnya “al-Manar” juz 5 hal. 361 mengomentari ayat tersebut, dengan menyatakan, bahwa umat Islam diperintahkan untuk berhijrah karena 3 sebab, yaitu :

1.       pertama:

كل مسلم يكون فى مكان يفتن فيه عن دينه او يكون ممنوعا عن اقامته فيه كما يعتقد  يجب عليه ان يهاجر منه الى حيث حرا فى تصرفه و اقامة دينه

Setiap muslim yang tinggal disuatu tempat, dimana dalam menjalankan ajaran agamanya selalu dimusuhi atau dilarang untuk menegakkan agamanya,maka wajib baginya untuk pindah ketempat yang memungkinkan untuk dapat melaksanakan ajaran Islam dengan bebas, dan juga dalam menegakkan syari’atnya.

2.       kedua :

لا يجوز لمن اسلم فى مكان ليس فيه علماء يعرفون احكام الدين ان يقيم فيه بل يجب ان يهاجر الى حيث تلقى الدين و العلم

Setiap muslim tidak boleh menetap disuatu tempat yang disitu tidak ada Ulama’ yang akan mengajarkan ilmu-ilmu ke Islaman, tetapi ia harus pindah ke suatu tempat yang didalamnya ada pengajaran tentang Islam dan pelaksanaan syariat Islam

3.       ketiga :

انه يجب على مجموع المسلمين ان تكون لهم جماعة او دولة قوية  تنشر دعوة الاسلام و تقيم احكامه و حدوده و تحفظ  دعاته واهله من بغى الباغين و عدوان العادين و ظلم الظا لمين

Wajib bagi umat Islam secara keseluruhan untuk membentuk jama’ah atau daulah (kekuasaan) yang kuat sehingga Islam dapat tersebar dan tegak hokum-hukumnya, terjaga dakwah Islam dan terlindungi umat Islam dari tangan-tangan jahil.

Makna hijrah yang dijelaskan oleh Imam Rasyid Ridlo tersebut, pada hakekatnya bermakna usaha perubahan kualitas hidup,bahasa sekarang barang kali “reformasi” baik spiritual, intelektual dan sosio kultural yaitu dengan meningkatkan ibadah kepada Allah, menuntut ilmu pengetahuan dan membangun masyarakat madany, masyarakat yang aman dan sejahtera yang dilandasi ta’awun (solidaritas), muakhot (persaudaraan) dan tasamuh (toleransi/tenggang rasa,cinta kasih dsb)

Hadlirin jamaah jum’ah yang mulia.

Ketika Rasulullah saw berdakwah di Makkah selama 13 th, belum nampak keberhasilannya, namun Allah menjanjikan bahwa Rasulullah saw akan mendapatkan kemenangan yang besar dalam waktu dekat, dan ketika itu turun ayat-ayat dalam surat adl-Dluha, diantara ayat itu berbunyi :

و للاخرة خير لك من الاولى  و لسوف يعطيك ربك فترضى

Bahwa yang akhir itu adalah lebih baik dari yang awwal.Dan Allah akan memberikan kepadamu karuniaNya, lalu kau merasa puas.

Firman Allah ini adalah dorongan moral dan spiritual, agar Rasulullah saw tidak putus asa dalam berjuang mensyiarkan agama Allah, karena Allah pasti akan menolongnya. Dalam kaitan ini seakan-akan Allah berfirman kepada Rasulullah saw, “ Hai Muhammad, boleh jadi kau gagal  dakwahmu dalam jangka pendek , namun dalam jangka panjang kau pasti akan berhasil, jika kau terus berjuang dengan tabah dan sabar.  Janji Allah swt, bahwa Islam akan jaya, tegak dan tersebar keseluruh pelosok dunia, telah terbukti 10 tahun kemudian, yaitu setelah Rasulullah dan para shahabat dari kalangan Muhajirin dan Anshor bersama-sama dengan penuh ikhlas dan sabar berjuang  meninggikan kalimah Allah yang dimulai dari bumi Madinah, dan hijrah tersebut merupakan awal kebangkitan Islam.

Umat manusia kadang-kadang terjebak kepada sesuatu yang bersifat jangka pendek, dan melupakan sesuatu yang bersifat jangka panjang. Manusia sering tergesa-gesa dan ingin cepat berhasil apa yang diinginkannya, sehingga tidak sedikit yang menempuh jalan pintas.Islam menekankan bahwa hidup ini adalah perjuangan dan dalam berjuang pasti banyak tantangan dan karenanya harus disertai dengan kesabaran dan berpegang teguh kepada kebenaran. Oleh karena itu Islam menegaskan bahwa : orang yang tidak akan merugi adalah orang yang selalu “tawaashou bil haq wa tawaashou bis shobr”

Hadlirin jamaah jum’ah rohimakumullah

Berbicara perkembangan Islam, tentu tidak bisa lepas dari peristiwa hijrahnya Rasulullah dan perjuangan beliau dengan para sahabatnya, hal ini pernah diungkapkan oleh beliau dalam sabdanya riwayat Imam al-Buchory  :

كان المؤمنون يفر احد هم  بد ينه الى الله و رسوله ص م  مخافة ان يفتن عليه  فام اليوم فقد اظهر الله الاسلام و اليوم يعبد ربه حيث شاء

Adalah orang-orang yang beriman dahulu ada yang harus berhijrah kepada Allah dan RasulNya karena khawatir tidak dapat menegakkan ajaran agamanya. Adapun sekarang ini Allah telah memenangkan Islam atas musuh-musuhnya, dan umat Islam dapat beribadah sesuka hati (dalam keadaan bebas dan aman)

Sesudah Rasulullah saw menaklukkan kota Makkah dan menguasai jazirah arab, maka beliau bersabda yang diriwayatkan oleh Imam al-Buchory:

لا هجرة بعد الفتح و لكن جهاد و نية

Tidak ada lagi hijrah sesudah fathul Makkah, tetapi yang ada adalah jihad dan niat.

Hijrah dalam arti “hijrotul makaniyah” yaitu pindah dari darul kufr ke darul Islam, dari tempat yang tidak aman ke tempat yang aman, bagi kita umat Islam di Indonesia, sudah tidak relevan lagi, sudah tidak perlu lagi, mengingat kita sudah bertempat di negri yang aman, di negri yang dijamin kebebasannya untuk beragama, namun hijrah dalam makna “hijrotun nafsiah” dan “hijrotul amaliyah” yaitu perpindahan secara spiritual dan intelektual, perpindahan dari kekufuran kepada keimanan, dengan meningkatkan semangat dan kesungguhan dalam beribadah, perpindahan dari kebodohan kepada peningkatan ilmu, dengan mendatangi majlis-majlis ta’lim, perpindahan dari kemiskinan kepada kecukupan secara ekonomi, dengan kerja keras dan tawakal, adalah masih sangat relevan dan perlu diaktualisasikan sepanjang masa. Pendek kata jihad dan niat yang kuat untuk menegakkan keadilan, kebenaran dan kesejahteraan umat sehingga terwujud rahmatal lil alamin adalah tugas suci bagi umat Islam, baik secara indifidual maupun secara kelompok atau jamaah. Tegaknya Islam dibumi nusantara ini sangat tergantung kepada ada tidaknya semangat jihad dari umat Islam itu sendiri.

Demikian khutbah jum’ah yang dapat kami sampaikan, semoga dalam memasuki tahun baru hijrah yakni tahun 1430 hijrah, semangat dan kakekat hijrah Rasulullah saw, tetap mengilhami jiwa kita menuju kepada keadaan yang lebih baik dalam segala bidang, sehingga predikat yang buruk yang selama ini dialamatkan kepada umat Islam akan hilang dengan sendirinya, dan pada gilirannya kita diakui sebagai “khoiro ummah” umat yang terbaik, baik agamanya, baik moralnya, tinggi intelektualnya dan terpuji sosio kulturalnya. Amin.

 

 

 

PESAN MORAL DALAM IBADAH QURBAN

Oleh: Yusuf Buchori

 

 

Allohu akbar 2x, Laa illaha illah walloohu akbar Allahu akbar walillahil hamd. Gema takbir, tahmid dan tasbih sejak kemarin sore tanggal 9 Dzul Hijjah telah bergemuruh menghiasi seluruh pelosok bumi Allah ini, kesemuanya itu diucapkan oleh berjuta-juta umat Islam sebagai ungkapan pengabdian dan rasa syukur kepada Allah Dzat yang maha agung, atas segala keberkahan dan anugerahNya, terutama tegaknya agama Allah, diinul Islam, agama tauhid, agama yang benar dan diridloiNya yang telah diperjuangkan oleh N. Ibrahim as dan putranya N. Ismail as. Yang kemudian disempurnakan oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad saw.

 Kaum muslimin rahimakumullah

Dalam kesempatan yang mulia ini, sekali lagi kami mengajak kepada seluruh kaum muslimin untuk senantiasa menghaturkan rasa syukur kehadirat Allah swt, atas segala karuniaNya yang telah kita terima, karena orang yang tidak mau bersyukur berarti merendahkan kedudukan diri sendiri

 

لا تد هشك واردات النعم عن القيام بحقوق شكرك فان ذ لك مما يحط من وجود قدرك                                     

“janganlah kedatangan nikmat justru membuatmu enggan untuk bersyukur, karena jika demikian berarti kau merendahkan kedudukanmu”

Sholawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi besar Muhammad saw, kepada keluarganya, para sahabatnya dan juga kepada kita seluruh ummatnya sampai hari kiamat. Amin.

Selaku khatib, saya mengajak kepada para jamaah sekalian dan juga kepada diri saya sendiri, untuk terus menerus menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taqwa kepadaNya, taat terhadap segala firmanNya dan mengikuti Sunnah-sunnah RasulNya dengan tulus ikhlas. Pengabdian, ketaatan dan ketundukan kepada Allah dan RasulNya menjadi jalan terbukanya pintu rahmat dan keridloan Allah swt  serta ketentraman jiwa.

 

كفى العاملين جزاء ماهو فاتحه على قلوبهم فى طاعته وما هو مورده عليهم من وجود مؤاسسته                

“Cukuplah sebagai balasan Allah bagi orang-orang yang beramal sholeh, apa yang dibukakan oleh Allah dihati mereka dalam mentaatiNya, dan apa yang diulurkan olehNya berupa kepuasan dan kedamaian dalam jiwanya”

Allahu akbar 2x walillaahil hamd.

Hadlirin Jamaah sholat ‘Id yang mulia.

Hari ini kita umat Islam merayakan Idul Adlha, yaitu memulyakan bulan Dzul Hijjah, salah satu bulan yang dalam al-Qur’an surat at-Taubah ayat 36 disebut sebagai bulan harom atau bulan yang mulia, karena pada bulan Dzul Hijjah ini kaum muslimin diseluruh dunia yang telah diberikan kemampuan fisik dan finansiil, berduyun-duyun berziarah ke Makkah al Mukarromah, menunaikan rukun Islam yang kelima yaitu Ibadah Haji. Ibadah haji adalah lambang “tauhidul ummah” kesatuan ummat Islam dan “tauhidul ibadah” kesatuan dalam tata cara beribadah kepada Allah swt.

Hal ini dapat kita lihat, dimana jamaah haji yang jumlahnya jutaan orang, yang datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai identitas kebangsaan masing-masing, namun setelah tiba di Makkah al Mukarromah mereka melakukan ibadah dengan cara yang sama dengan membaca bacaan yang sama pula. Bahkan tatkala saudara-saudara kita “wukuf di Arofah” yaitu berhenti sejenak untuk memanjatkan sujud dan do’a kepada Allah swt, kita pun yang berada diluar Makkah pada hari yang sama juga melakukan “wukuf” dalam arti berhenti dari makan dan minum dan berhubungan suami isteri, yaitu melakukan “puasa arofah”.

Pada saat saudara-saudara kita menggemakan takbir dan tahmid di bukit-bukit Mina, Shofa dan Marwa, pada hari-hari Tasyriq, kitapun juga turut melafadzkan takbir dan tahmid pada hari-hari tasyriq tersebut. Dari kesatuan ibadah ini sangat diharapkan benar-benar terwujud kesatuan umat Islam seluruh dunia yang tidak mudah terpecah belahkan oleh musuh-musuh Islam.

Pada bulan Dzul Hijjah ini, selain disyariatkan ibadah haji, juga Allah swt mensyariatkan ibadah pemotongan hewan ternak, yang kita kenal dengan ibadah qurban, yang sebentar lagi setelah selesai sholat ‘Id nanti, kita semua akan menyaksikan penyembelihan hewan ternak sebagai wujud tasyakur kita atas kemenangan perjuangan N. Ibrahim as dan N. Ismail as dalam menghadapi godaan dan rayuan iblis laknatullah.

Ibadah qurban  itu merupakan sarana untuk merenungkan kembali peristiwa pengorbanan N. Ibrahim as. Atas dasar keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah swt yang tak tergoyahkan, N. Ibrahim as tabah dan sabar menerima cobaan Allah swt yang berupa perintah untuk menyembelih satu-satunya putra beliau yang sangat dicintai yaitu Ismail, yang setelah dewasa beliau juga diangkat sebagai nabiyullah.

Peristiwa yang sangat dramatis namun mulia itu, telah diabadikan dalam al-Qur’an surat al-Shoffat ayat 105 s/d 108 sebagai berikut :

 

قد صدقت الرؤيا  انا كذالك نجز المحسنين  ان هذا لهو البلاء المبين

وفدينه بذبح عظيم  وتركنا عليه فى الاخرين

 

Artinya : Cukuplah demikian, kamu telah melaksanakan mimpi itu. Demikianlah Kami memberi ganjaran bagi orang-orang yang berbuat kebaikan. Sesungguhnya itu suatu ujian yang nyata beratnya. Dan Kami tebus Ismail dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami tinggalkan nama baik Ibrahim kepada generasi yang akan datang.

 Apabila kita perhatikan dengan seksama ibadah qurban dan dihubungkan dengan tantangan obyektif yang kita hadapi sekarang ini, maka sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) pesan moral yang terkandung dalam ibadah qurban, yaitu :

Pesan moral pertama adalah, kesadaran historis yang dilandasi keimanan dan akhlaqul karimah.

 Bahwa kita umat manusia sebagai satuan masyarakat dan bangsa, hidup dalam ruang dan waktu yang senantiasa berubah. Suatu perjalanan sejarah yang tidak pernah berhenti. Kenyataan ini diisyaratkan dalam al-Qur’an S.Ali Imron 140;

 

وتلك الايام نداولها بين الناس وليعلم الله الذين امنوا ويتخذ منكم شهداء

 

والله لا يحب الظالمين

 
Artinya ; Dan hari-hari itu Kami (Allah) buat beredar diantara umat manusia supaya Allah mengetahui orang-orang yang benar-benar beriman diantara kalian. Dan Dia menempatkan mereka sebagai saksi-saksi dari kalian. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat dzalim.

 

Dalam proses perjalanan hidup ini, umat manusia diingatkan akan banyaknya tantangan yang harus dihadapi, baik dari dalam diri nya sendiri maupun dari luar dirinya. Bersamaan itu manusia diingatkan pula untuk memiliki tingkat konsistensi yang tinggi terhadap tujuan dan nilai-nilai yang bersumber dari keimanan kepada Allah dengan segala pengorbanan dan perjuangan, sebagaimana disimbulkan oleh pengalaman N. Ibrahim as dalam berjuang mengendalikan perasaan-perasaannya sendiri dan dalam menghadapi godaan iblis dalam segala bentuknya.

Untuk mengendalikan perasaan sebagai tantangan dari dalam, dan godaan iblis sebagai tantangan dari luar, maka sudah seharusnya kita memiliki kadar etik atau kwalitas akhlaq sehingga dapat menjadi dasar untuk menilai sesuatu itu baik atau buruk. Pada tingkat kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, maka akhlak esame dan akhlak nasional mutlak diperlukan dalam rangka menjalani proses sejarah menuju masa depan yang kita harapkan bersama, yakni masyarakat yang adil dan makmur yang diridloi Allah swt.

Adanya sekilas gejala kekerasan dan kecenderungan radikalisme yang muncul akhir-akhir ini dikalangan sebagian masyarakat kita, mungkin sekali ada kaitannya dengan gejala melemahnya akhlak esame dan akhlak nasional.

Rebahnya hewan qurban dan mengalirnya darah sembelihan ternak qurban yang dilandasi ketaatan dan kepasrahan semata-mata kepada Allah swt, bukanlah suatu kekejaman apalagi balas dendam terhadap makhluq Allah, tetapi hal itu sebagai esame pengorbanan mengikis habis nafsul hayawaniyah, nafsu yang tidak pernah merasa puas, nafsu yang hanya kenal dengan  kelompoknya saja tanpa mengenal lingkungan lainnya. Daging daging hewan ternak yang dibagi-bagikan kepada saudara-saudaranya, akan semakin mengokohkan jiwa esame dan jiwa kebangsaan.

Oleh karena itu adalah pada tempatnya dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Allah swt, patut kita merenungkan kembali kadar akhlak esame dan akhlak nasional melalui makna simbolis ibadah qurban ini serta memikirkan dasar-dasar pembinaan yang harus kita lakukan bersama.

 Pesan moral kedua, adalah bahwa umat manusia diciptakan oleh Allah swt sebagai makhluk yang secara alami memiliki kesadaran kemanusiaan dan berwatak social.

 Allah swt mengingatkan bahwa kita makhluk yang harus mempunyai tanggung jawab social dan harus menyadari bahwa nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepada kita berdimensi social. Fa amma binikmati robbika fa haddits, demikian firman Allah swt dalam surat adl-Dluha ayat 11.

Kwalitas keimanan seseorang tidak cukup hanya dinilai dengan berapa kali pergi ke masjid, berapa kali pergi haji, berapa kali melakukan qurban, dan sebagainya, tetapi disamping itu juga dinilai dari sejauh mana kepedulian seseorang terhadap nasib masyarakat yang ada disekitarnya.

Syekh Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya “al-Qur’anul Kariim” (Juz ‘Amma), ketika menafsirkan surat al-Maaun, beliau menyatakan esam khas seorang yang beragama secara benar adalah mempunyai rasa keadilan, kasih esame dan suka melakukan kebajikan kepada esame manusia, sedangkan orang yang beragama secara salah adalah melecehkan hak-hak kaum dlu’afa, ketidak pedulian terhadap penderitaan orang lain, kecintaan yang berlebihan terhadap harta benda, angkuh dengan kekuatan dan kekuasaannya, serta enggan memberikan kebaikan kepada orang lain.

Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya, riwayat Imam Buchori dan Muslim, menyatakan :

 لايؤمن احدكم حتى يحب لاخيه مايحب لنفسه

 Artinya : Tidaklah benar-benar beriman siapapun diantara kalian sehingga ia mencintai kepada saudranya seperti halnya ia mencintai dirinya sendiri.

 
Kepedulian terhadap nasib masyarakat disekitarnya dan kesediaan   menyisihkan sebagian dari nikmat Allah untuk kepentingan peningkatan kwalitas masyarakat, sesungguhnya adalah bagian ibadah yang tidak kalah pentingnya dari ibadah-ibadah lain.

Menyisihkan sebagian nikmat Allah untuk kepentingan social, memang tidak selalu mudah dilaksanakan, karena syaitan selalu menakut-nakuti dengan kemiskinan. Hal ini dinyatakan dalam surat al-Baqoroh ayat 261 sebagai berikut :

 

الشيطان يعدكم الفقر ويامركم بالفخشاء والله يعظكم مغفرة وفضلا  والله واسع عليم

 

Artinya : Syaitan senantiasa menjanjikan kemiskinan kepadamu (jika kamu berinfaq/shodaqoh) dan syaitan menyuruh kamu kepada perbuatan dosa, sedangkan Allah menjanjikan (kepada orang yang suka berinfaq/shadaqoh) dengan ampunan dan karunia yang banyak. Dan Allah itu maha luas rizkiNya dan maha mengetahui segala sesuatu.

 Kesadaran kemanusiaan dan kepedulian social itu akan tumbuh dan berkembang seiring dengan semakin dekatnya seseorang kepada Allah swt, semakin orang itu dekat kepada Allah, maka semakin besar rasa social dan tanggung jawabnya kepada masyarakat sekitarnya.

 Pesan moral ketiga adalah adanya kesadaran ke Tuhanan yang konsisten

 

Keharmonisan hubungan seseorang dengan Allah sangat menentukan keharmonisan hubungan dirinya dengan lingkungan secara menyeluruh, baik lingkungan alam maupun lingkungan manusia, sebab hubungan yang terus menerus kepada Allah akan memberikan daya kreatif sekaligus daya korektif pada diri sendiri.

Itulah sebabnya Rasulullah saw mengingatkan agar dalam setiap aktifitas atau kegiatan, hendaknya kita menghadirkan Allah dalam kesadaran kita.

Rasulullah saw bersabda :

 

كل امر ذى بال لايبدء فيه بسم الله الرحمن الرحيم فهو ابتر او اقطع

 Artinya : Setiap kegiatan yang baik tanpa diiringi dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, maka kegiatan atau perbuatan itu terputus dari berkah Allah.

 

Menyebut nama Allah sudah barang tentu mengandung makna disatu sisi seseorang harus menjunjung norma-norma yang telah digariskan atau ditetapkan dan melaksanakan tugas pekerjaan sesuai profesi dan kedudukan yang dipercayakan kepadanya, dan disisi lain percaya bahwa Allah senantiasa membimbing dan melindungi setiap pekerjaannya, sehingga ia tetap tegar, dinamis dan tidak mudah putus asa, sebab Allah terus menerus menyertainya.

Allah swt berfirman dalam surat al- An’am 48;

 
فمن امن و اصلح فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون

 
Artinya : Maka siapa yang beriman kepada Allah dan berbuat kebaikan (menjaga norma-norma hukum dan amanah), maka mereka tidak akan merasa takut dan sedih hati.

Dalam membangun masa depan baik diri sendiri, masyarakat maupun bangsa, diperlukan kwalitas sumber daya insani yang tinggi dan utuh, memiliki kadar iman yang kuat, yang mampu menghadirkan Allah swt dalam setiap kegiatan hidupnya.

Sumber daya manusia yang hanya ditempa dengan ketrampilan sektoral tanpa dibekali kwalitas keimanan, hanya akan melahirkan manusia yang angkuh dan sombong, arogansi kekuasaan dan egoisme, mengabaikan kepentingan orang lain atau kepentingan masyarakat dan bangsa.

Demikian antara lain pesan-pesan moral yang terkandung dalam ibadah qurban, semoga kita mendapat pelajaran dari padanya dan selanjutnya bangkit menyongsong masa depan yang lebih baik, dalam suasana damai, penuh persaudaraan serta cucuran berkah dan rahmat Allah swt. Amin ya robbal alamin.

 

 

 

 

           

Hak Cipta © 2014 Pengadilan Agama Kendal

Jl. Soekarno Hatta Km. 4, Brangsong - Kendal Telp. 0294-381490 Fax. 0294-384044

Jawa Tengah, Indonesia - 51371

SELAMAT DATANG DI WEBSITE PA. KENDAL YANG BERSTANDAR ISO 90001:2015